Jumat, 09 November 2012

“Belajar memuliakan tamu”


   Nasehat habib Sholeh Alaydrus
Pernah dikatakan kepada Qois bin Said dimana Ia termasuk golongan Azkiya’(orang yang dermawan) dijamannya . adakah orang yang lebihdermawandari padamu wahai Qois? Qois pun menjawab :kami pernah bertamu di rumah seseorang yang ada di desa pedalaman. Saat itu istripemilik rumah sedang menunggu kedatangan suaminya.Begitu suaminya datang, si istri mengatakan kalau adatamu yang datangkerumah. Mendengar hal itu sang suami langsung membawa seekor unta dan menyembelihnya sebagai jamuan buat kita yang saat itu memang bertamu dan menyuruh kita untuk menghabiskannya.
Keesokan hari nya dating membawa seekor unta dan menyembelihnya lagi untuk dimasak dan di hidangkan kepada kami. Sambil mengatakan :”habiskanlah makanini”. Kemudian kami mengatakan :”kami hanya makan sedikit dari apa  yang engkau sajikan kemarin mengapa engkau menyembelih unta lagi? Bukankahmasihadasi sadari daging kemarin”.
Ketika kami hendak pulang ternyata kondisi hujan sangat lebat, sehingga terpaksa kami harus  menginap kembali. Dan orang tersebut menjamu kami sepertihari-hari sebelumnya.Ketika kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, kami menaruh seratus dinar (kepingemas) dirumahnya. Dan mengatakan kepada istrinya: “mintakan maaf pada suamimu karna kami akan segera melanjutka nperjalanan”.Setelah berkata begitu, kami pun keluar dari rumahnya.
Ketika kami sedang berjalan pulang dan matahari sudah menyengat tubuh kami .tiba-tibasaja dibelakang kami terdengar suara orang berteriak:”berhentilah wahai rombongan yang tidak tahu diri, engkau telah memberiku harga jamuanku,.Apakah engkau akan mengambi lpahala yang telah aku berikan kepada kalian”.
Masya Allah
Dari sini dapat kita petik bahwa seorang yang terkenal kedermawanannya yakni Qois ibn said juga belajar dari sifat kedermawananya orang lain. Orang menerima tamu dan menjamunya pada hakikatnya hanyalah perantara untuk menyampaikan perantara rizki dari Allah kepada orang lain. Ingatlah bahwa rizki yang kita peroleh itu hanyalah titipan dari Allah.
Kalau zaman sekarang istri pasti akan gandoli(keberatan) bila  rejeki suaminya diberikan kepada orang lain.  Kalo suaminya bakhil maka sifat tersebut akan menjalar pada anak istrinya. Cobalah kita contoh kyai-kyai kita yang sholeh, yang tidak memiliki sifat bakhil, perhatikan bagaimna mereka menerima dan menjamu tamunya?Bagi mereka menerima tamu itu ibarat menerima permata. Menerima tamu janganlah  mengharap balasan (imbalan).Kalau kita ingin mendapatkan maqom (kedudukan) yang mulia maka muliakanlah tamumu. Kalau rejeki kita seret, jangan- jangan karena kita kurang memuliakan tamu yang bersilaturahmi kepada kita. Ketahuilah bahwa ada jaminan keimanan bagi orang-orang yang memuliakan tamunya, sebagaimana sabda kanjeng nabi: من كان يؤمن باالله واليوم الاخر فاليكرم ضعفه barang siapa yang mengaku beriman kepda Allah dan hari akhir , maka muliakanlah tamu. Nana-nino ^-^