Nasehat habib Sholeh Alaydrus
Pernah
dikatakan kepada Qois bin Said dimana Ia termasuk golongan Azkiya’(orang yang
dermawan) dijamannya . adakah orang yang lebihdermawandari padamu wahai Qois?
Qois pun menjawab :kami pernah bertamu di rumah seseorang yang ada di desa pedalaman.
Saat itu istripemilik rumah sedang menunggu kedatangan suaminya.Begitu suaminya
datang, si istri mengatakan kalau adatamu yang datangkerumah. Mendengar hal itu
sang suami langsung membawa seekor unta dan menyembelihnya sebagai jamuan buat kita
yang saat itu memang bertamu dan menyuruh kita untuk menghabiskannya.
Keesokan
hari nya dating membawa seekor unta dan menyembelihnya lagi untuk dimasak dan
di hidangkan kepada kami. Sambil mengatakan :”habiskanlah makanini”.
Kemudian kami mengatakan :”kami hanya makan sedikit dari apa yang engkau sajikan kemarin mengapa engkau menyembelih
unta lagi? Bukankahmasihadasi sadari daging kemarin”.
Ketika
kami hendak pulang ternyata kondisi hujan sangat lebat, sehingga terpaksa kami
harus menginap kembali. Dan orang
tersebut menjamu kami sepertihari-hari sebelumnya.Ketika kami berpamitan untuk melanjutkan
perjalanan, kami menaruh seratus dinar (kepingemas) dirumahnya. Dan mengatakan kepada
istrinya: “mintakan maaf pada suamimu karna kami akan segera melanjutka nperjalanan”.Setelah
berkata begitu, kami pun keluar dari rumahnya.
Ketika
kami sedang berjalan pulang dan matahari sudah menyengat tubuh kami
.tiba-tibasaja dibelakang kami terdengar suara orang berteriak:”berhentilah wahai
rombongan yang tidak tahu diri, engkau telah memberiku harga jamuanku,.Apakah engkau
akan mengambi lpahala yang telah aku berikan kepada kalian”.
Masya Allah
Dari
sini dapat kita petik bahwa seorang yang terkenal kedermawanannya yakni Qois ibn
said juga belajar dari sifat kedermawananya orang lain. Orang menerima tamu dan
menjamunya pada hakikatnya hanyalah perantara untuk menyampaikan perantara rizki
dari Allah kepada orang lain. Ingatlah bahwa rizki yang kita peroleh itu hanyalah
titipan dari Allah.
Kalau
zaman sekarang istri pasti akan gandoli(keberatan) bila rejeki suaminya diberikan kepada orang
lain. Kalo suaminya bakhil maka sifat tersebut
akan menjalar pada anak istrinya. Cobalah kita contoh kyai-kyai kita yang
sholeh, yang tidak memiliki sifat bakhil, perhatikan bagaimna mereka menerima dan
menjamu tamunya?Bagi mereka menerima tamu itu ibarat menerima permata. Menerima
tamu janganlah mengharap balasan
(imbalan).Kalau kita ingin mendapatkan maqom (kedudukan) yang mulia maka muliakanlah
tamumu. Kalau rejeki kita seret, jangan- jangan karena kita kurang memuliakan tamu
yang bersilaturahmi kepada kita. Ketahuilah bahwa ada jaminan keimanan bagi
orang-orang yang memuliakan tamunya, sebagaimana sabda kanjeng nabi: من كان يؤمن باالله واليوم الاخر فاليكرم ضعفه
barang siapa yang mengaku beriman
kepda Allah dan hari akhir , maka muliakanlah tamu. Nana-nino ^-^